Melihat Wajah Kerukunan Indonesia dari Ponpes Sunan Pandanaran Yogyakarta – JATMAN Online

Amanat Abah; Jangan Kecewakan Saya!
Pesan Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz
Jangan Pernah Kosong Seharipun Ndalem Tanpa Maulid
Hijrah Saat Ini adalah Meningkatkan Keilmuan, Perekonomian dan Persatuan
Meneladani Kisah Sebutir Nasi
Mutiara Pencerahan Sufi
Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus 
Menyelami Buku Shalawat Nariyah
Walisongo Luar Negeri dalam Kitab Manaqib al Auliya’ al Abrar
Kitapun Bisa Jadi Sufi
Kiai Said Jelaskan Kisah Nabi Tentang Islam Moderat
Kanzus Sholawat Kota Bogor Ucapkan di Milad yang Ke-75 Maulana Habib Luthfi bin Yahya
Gelar SULUK, MATAN UNSIQ Angkat Tema Thariqah Sebagai Landasan Berpikir dan Berdzikir ‘lii Khidmah lil Ummah fii Asasil Khomsah’
Tarekat Naqsyabandiyah Gelar Zikir Akbar Nasional (ZAN) 2022 di Bengkulu
Mohammed Abbasi: Masyarakat Dunia Harus Belajar Dari Pengalaman NU
Gelar SULUK, MATAN UNSIQ Angkat Tema Thariqah Sebagai Landasan Berpikir dan Berdzikir ‘lii Khidmah lil Ummah fii Asasil Khomsah’
Haul Maulana Syekh Muhibbat, MATAN Kuningan Adakan Khatmil Quran
PC MATAN Lebak Gelar Suluk MATAN 1
Lirik Hymne MATAN
Lirik Mars MATAN
Silaturrahmi Kuatkan Jama’ah dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama
Cegah Radikalisme di Sekolah, Wahid Foundation Luncurkan Sekolah Damai
Kiai Aqil Siradj Ingatkan Pesan Nabi Bangun Akhlakul Karimah Manusia
Peletakan Batu Pertama Rumah Suluk Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah Di Deli Serdang
Halaqah Alim Ulama, JATMAN DKI Jakarta Ajak Masyarakat Berzikir dan Berfikir
Tarekat Naqsyabandiyah Gelar Zikir Akbar Nasional (ZAN) 2022 di Bengkulu
Mohammed Abbasi: Masyarakat Dunia Harus Belajar Dari Pengalaman NU
Rabi Perempuan Yahudi Minoritas Bahagia Diberi Ruang Bicara di Forum R20
Resmi, Ketum PBNU Gus Yahya Tutup Forum Agama R20
Rais ‘Aam PBNU Ingatkan Pentingnya Imbangi Ilmu Umum dengan Spiritualitas
Indonesia Terima Penghargaan Perdamaian dari Abu Dhabi Forum for Peace
Ulama Kontemporer Yusuf Al-Qaradawi Dikabarkan Meninggal Dunia
KBRI Tunisia Gelar Ngaji Tasawuf Imam Abu Hasan Al-Syadzili
Berbondong-bondong Jemaah Haji Ke Arafah, Gema Talbiyah Dikumandangkan
Mahasiswa Indonesia di Tunisia Kaji Tasawuf Syekh Ihsan Jampes
Cerita Habib Muhdhor Assegaf, Menikmati Nasi Barakah Manaqib bersama Habib Luthfi
Menghidupkan Manusia Dari Kubur
Gandum yang Tidak Pernah Habis
Terkena Paku Akibat Su’udzan
Menjaga Ikhtiar dengan Istiqamah menurut Qs Al-Baqarah Ayat 74
Habib Luthfi Tetap Khidmah di NU
Menghidupkan Gusdur ala Gus Yahya untuk NU
Published
on
By
Yogyakarta, JATMAN Online – Ribuan santri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, gegap gempita melantunkan lagu “Heal the Wolrd” yang dipopulerkan penyanyi dunia Michael Jackson.
Lagu legendaris dalam album Dangerous yang dirilis pada 1991 itu merupakan bentuk pesan Jackson yang ingin mengajak umat manusia berbuat baik kepada sesama serta makhluk hidup lainnya, termasuk kepada bumi.
Di ponpes asuhan KH. Mu’tashim Billah itu, menjadi sesuatu tak biasa mewarnai lingkungan pesantren. Riuh rendah lantunan lagu ribuan santri mewujud sebuah atmosfer sekaligus simbol positif yang mengesankan para pemimpin berbagai agama di dunia kala mendatangi ponpes itu.
Tak hanya lagu perdamaian, para santri juga menyambut meriah tamunya itu dengan penampilan marching band, Tari Saman Aceh, hadrah Pandanaran, hingga koreografi yang memukau.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau (Gus Yahya) memang sengaja membawa para peserta Forum Agama G20 (R20) mengunjungi pesantren itu pada Minggu (6/11) malam, sebagai agenda penutup perjumpaan mereka di Yogyakarta.
Dengan mantap dan penuh rasa bangga, Gus Yahya berkata bahwa pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan tradisional yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) untuk mencetak para pemimpin yang humanis dan toleran.
Di tempat semacam itulah ia bersama para pemimpin NU lain digembleng dan tumbuh. Setidaknya ada 25.000 ponpes milik NU yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.
Kepada para pemuka agama dunia, Gus Yahya menegaskan bahwa dengan latar belakang pendidikan seperti itu, Umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU yang memegang falsafah Pancasila, ikut mempertahankan negara tercinta sembari hidup harmonis di tengah keberagaman.
Zainab Zuwaij dari Kongres Islam Amerika mengaku bahagia dapat berkunjung untuk kali kedua di pesantren yang didirikan oleh KH Mufid Mas’ud pada 1975 itu.
Kendati para tokoh yang hadir pada Forum R20 berasal dari negara, akidah, hingga agama yang berbeda, perjumpaan mereka dengan para santri dan masyaikh di ponpes itu merengkuh titik temu, yaitu nilai kemanusiaan dan etika luhur.
Akhlak atau etika, merupakan dasar yang menjadi fondasi kehidupan. Adapun pokok dari akhlak adalah saling memahami, cinta, kasih, toleransi, saling memaafkan, serta menghormati mereka, baik dari akidahnya maupun agamanya.
Forum R20 diikuti 338 peserta, berasal dari 32 negara. Mereka adalah pemuka hampir dari seluruh agama di dunia, mulai dari Islam, Yahudi, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Shinto dan lainnya.
Situs Hindu di kampus Islam
Sehari sebelum tiba di Ponpes Sunan Pandanaran, peserta R20 mengunjungi kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) yang berlokasi di Jalan Kaliurang Km 14, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rektor UII Prof Fathul Wahid menyambut ramah rombongan, kemudian mengajak mereka menuju sebuah situs Hindu bernama Candi Kimpulan yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Candi itu ditemukan secara tidak sengaja pada 11 Desember 2009 ketika dilakukan penggalian untuk fondasi proyek pembangunan perpustakaan UII.
Di antara rombongan, Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia, tampak antusias mengamati setiap sudut warisan sejarah itu.
Decak kagum para pemuka agama dunia tertuju pada betapa situs pemeluk Hindu dapat dirawat serta dijaga dengan baik di salah satu kampus Islam terbesar di Indonesia itu.
Menariknya lagi, desain bangunan perpustakaan UII kemudian diubah dan dirancang menyesuaikan posisi candi yang ditemukan belakangan.
Alih-alih menggunakan nama berbahasa Arab, Badan Wakaf UII justru mengusulkan nama lain dengan bahasa Sanskerta, yakni Pustakasala yang berarti “perpustakaan”.
Candi Kimpulan di kompleks UII menjadi bukti sekaligus penegas bahwa di negara mayoritas Muslim, kehidupannya berlangsung dan berkembang dengan saling menghargai, serta sangat memberi ruang hidup yang terhormat kepada situs-situs dan komunitas non-Muslim.
Dengan saling melindungi serta menciptakan ruang berkembang untuk sesama, maka kesetaraan manusia bisa dijamin, sehingga memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
Sekretaris Jenderal World Evangelical Alliance Pendeta Thomas Schirrmacher menaruh kesan bahwa kunjungan ke UII yang di dalamnya terawat sebuah Candi Hindu menjadi gambaran jelas wajah Islam di Indonesia sekaligus contoh yang baik terkait toleransi keyakinan.
Berangkat dari situ, Pendeta Thomas pun berharap pengaruh Indonesia benar-benar melesat jauh, tidak sekadar pada ajang R20, namun juga menjadi contoh bagi banyak negara lain di dunia.
Agama sebagai solusi
Selain mengunjungi Ponpes Sunan Pandanaran dan Kampus UII, para tokoh agama tersebut diajak mengunjungi Candi Prambanan, Candi Borobudur, serta Vihara Mendut.
Mengunjungi Yogyakarta setidaknya menjadi mukadimah yang baik dari perjalanan panjang Forum R20 untuk mewujudkan agama sebagai sumber solusi global, alih-alih sumber masalah.
Seruan agama sebagai sumber solusi global merupakan inti komunike atau pengumuman resmi yang disepakati dalam Forum agama G20 “Religion 20” (R20) yang mempertemukan para pemuka agama, sekte, dan tradisi dunia selama di Nusa Dua, Bali 2-3 November 2022.
Dalam komunike itu, para pemuka agama dari anggota G20 dan negara lain seluruh dunia amat menyadari tantangan global, seperti kerusakan lingkungan, bencana alam dan buatan, kemiskinan, pengangguran, penggusuran, ekstremisme, hingga terorisme.
Menghadapi tantangan tersebut, dipersulit pula oleh rivalitas antara kekuatan-kekuatan utama dan merebaknya konflik berbasis identitas di seluruh dunia yang mengancam perdamaian serta keamanan dunia dan domestik, serta tergerusnya komitmen terhadap nilai-nilai etika dan spiritual yang penting untuk setiap orang dan masyarakat.
Karena itu, untuk menempatkan agama sebagai solusi dari semua itu, Forum R20 memanggil para pemimpin agama, politik, dan semua orang yang memiliki kehendak baik dari segala bangsa dan keyakinan untuk bergabung membangun aliansi global dalam nilai-nilai peradaban bersama.
Berdasar misi besar itulah, Gus Yahya, inisiator R20, memilih Yogyakarta untuk menunjukkan bahwa kehidupan yang rukun dan tenteram menjadi sebuah kewajiban yang harus dipraktikkan, dirawat, dan ditunjukkan oleh seluruh elemen bangsa di dunia dengan latar belakang apapun, baik dari sisi etnis, budaya, suku, maupun agama.
Untuk menjadi bagian solusi dari problem global, para tokoh agama di dunia tak punya waktu untuk saling berdebat apalagi menghujat.
Demikian pula saat muncul gesekan, mereka perlu segera membangun dialog, bukan malah bermonolog.
Pewarta: Luqman Hakim (Antara)
Editor: Warto’i

Abah Yunus Muqaddam Thariqah Tijaniyah Jakarta Jelaskan Kedahsyatan Shalawat Al-Fatih
R20 di Yogyakarta Bahas Persekusi Minoritas di Belahan Dunia
Direktur Pasca Sarjana UIN Jakarta Sebut R20 Momentum Dunia Jaga Kerukunan
PBNU Undang Presiden Hadiri Forum R20
Published
on
By
Syekh KH. Muhammad Yunus Abdul Hamid At-Tijani selaku Ketua Majelis Ifta Idaroh Wustho JATMAN DKI Jakarta menyatakan bahwa umat Islam saat merayakan Maulid Nabi Saw. bisa dengan banyak hal, salah satunya adalah bershalawat kepada Rasulullah Saw.
Syeikh Ahmad Al-Hasani At-Tijani mendapatkannya dari Rasulullah Saw. Sedangkan orang yang pertama mengajarkan Shalawat Fatih adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw.
“Jangan dikira Shalawat Al-Fatih baru, untuk keterangannya silakan buka Tafsir Ibnu Katsir, pembahasan ayat terkait shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Pada Surat Al-Ahzab ayat 56,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs Al-Ahzab: 56).
“Yang diajarkan Syekh Ahmad Al-Hasan At-Tijani, Keutamaan Shalawat Al-Fatih ini benar-benar dahsyat, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Fathur Rabani dalam kitab Rimah, termasuk di kitab Jawahir Ma’ani, Sayyidi Syekh menyatakan,
اعلم ان الفاتح لما اغلق امر الهي
Ketahuilah, sesungguhnya Shalawat al-Fatih diperuntukkan bagi perkara-perkara yang terkunci berupa perkara ilahiyah.
“Jadi Shalawat Fatih ini bukan buatan manusia. Jadi membaca berurusan langsung kepada Allah. Bacalah Shalawat Al-Fatih.” Jelas Abah Yunus Muqaddam Thariqah Attijani Jakarta pada Channel Zawiyah Tarbiyah Attijaniyah Jakarta.
Rasulullah Saw. sendiri berkata kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani:
ما صلى علي احد بأفضل من صلاة الفاتح
“Tidaklah seseorang membaca shalawat kepadaku dengan shalawat yang paling utama, melainkan ia membaca dengan Shalawat Al-Fatih.”
Bahwa keutamaan Shalawat Al-Fatih juga dialami oleh seorang wali besar pernah menangis bermimpi Rasulullah Saw., beliau bertanya: “Ya Rasulullah, dosa saya banyak”.
Kemudian beliau menjawab: “Bacalah Shalawat Al-Fatih.
Adapun bacaan Shalawat Al-Fatih sebagai berikut :
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍنِ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْ رِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus.
“Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.”

Published
on
By
Jakarta, JATMAN Online – CEO Startup Company Comestoarra Arief Noerhidayat menjelaskan sebagai startup company, Comestoarra.com menginisiasi metoda TOSS dan melakukan pelatihan serta pendampingan kepada masyarakat dan Dinas Lingkungan Hidup seluruh indonesia untuk mengelola dan mengolah sampah organik menjadi bahan baku energi berbasis kerakyatan dan beraskakan kegotong royongan.
Hal ini disampaikan kepada Anggota Idaroh Aliyah JATMAN melalui virtual Zoom, Rabu (9/11) sebagai program unggulan yang bekerjasama dengan pesantren-pesantren di Indonesia dan diskusi dibuka langsung oleh Mudir Tsani JATMAN Ir. H. Aman Subagio.
Arief mengatakan bahwa dengan program Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS) ini bisa menjaga kesehatan dan mengefisiensikan sampah-sampah segera didaur ulang agar tidak menimbulkan bau menyengat.
“Sampah yang ada dimasukan ke box bambu ukuran 1 × 1 x 1 m³ dan diberi bio aktifaktor. Setelah 2 hari bau sampah hilang dan setelah 3 hari atau 5 hari sampah sudah berubah, bisa menjadi pupuk, makanan ternak atau pelet,” kata Arief.
Program ini, tambah dia, merupakan program energi terbarukan dan pemerintah akan menggerak program ini untuk di pesantren-pesatren.
“Pemerintah sedang mengatur program ini sebagai program terbarukan yang akan ditawarkan ke pesantren-pesantren seluruh indonesia agar permasalahan sampah terselesaikan,” ujarnya.
Dalam hal ini, PT. PLN (Persero) UPK Flores berperan mendukung program TOSS dengan layanan Corporate Shared Value (CSV) yang merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekedar Corporate Social Responsibility (CSR).
Program (TOSS) secara lengkap, mulai dari proses pengolahan biomassa dan sampah domestik hingga pemanfaatannya untuk masyarakat dan mendukung pengembangan program co-firing pada PLTU Ropa.
Menanggapai hal ini, Bapak Kol AL Arwani berharap agar program ini tersampaikan dengan baik dan bisa bekerjasama dengan JATMAN dan pesantren yang ada di naungan NU.
“Saya berharap program in bisa bersinergi dengan Jatman dan pesantren-pesantren di naungan NU khususnya JATMAN semata untuk kemaslahatan NKRI,” harapnya.

Published
on
By
Jakarta, JATMAN Online – suatu pemberitaan, ada seorang ustaz mengharamkan merk air mineral tertentu yang dibawa ke majelis taklim karena merupakan produk asal Prancis, yang dianggap negeri orang “kafir.” Video sang ustaz yang kurang tiga menit itu diunggah sebuah akun instagram akhir 2020, ditonton lebih dari 34.000 kali dalam 7 jam setelah penayangan.
Maret 2022 ini, pernyataan yang sama kembali viral, juga melalui media sosial. Banyak kritik atas aksi pengharaman ini, tapi tak sedikit yang mendukungnya.

Terakhir bulan Oktober 2022 muncul kasus wanita bercadar bernama Siti Elina mencoba menerobos ke istana negara sambil membawa senjata api dengan misi sebagai jihad. Cara pandang dan perilaku sosial keagamaan ini dipengaruhi oleh pemahaman keagamaannya.
Aksi ini sejatinya adalah fenomena pemahaman keagamaan yang persoalannya tidak sederhana. Ini semacam gunung es mengenai persoalan eksistensi otoritas agama di ruang publik yang patut dicermati kembali. Tak sedikit wacana keagamaan—yang karena kompeksitasnya—sama sekali ‘tak cukup’ diselesaikan melalui perdebatan tanpa arah dalam keterbukaan dan kebebasan bermedia.

Tapi benarkah otoritas agama yang kompeten dan bersedia mengawal tumbuh kembang Islam moderat dan persistensi demokrasi tak lagi menarik jadi rujukan? Bagaimanakah ormas Islam moderat sebaiknya merespons fenomena kontestasi gagasan keagamaan yang kerap kali memunculkan isu-isu berbahaya bagi kehidupan berbangsa?

Kontestasi Ideologi di Ruang Publik
Ruang publik media digital mengubah gaya hidup masyarakat dalam banyak aspek, termasuk bidang agama. Kemudahan, kecepatan akses dan kebebasan berekspresi di media digital menjadi pemandangan biasa hari ini. Meski memiliki nilai positif, penggunaan media sosial untuk menyampaikan apa saja, cenderung kurang disadari bahayanya baik bagi individu maupun masyarakat luas.  Para ahli, seperti Fuchs (2014), mengingatkan betapa media sosial merupakan ruang eksploitasi kapitalisme jenis baru yang kurang atau bahkan tidak disadari.

Dalam konteks keberagamaan, kehadiran dan penggunaan teknologi informasi yang massif ini mendorong terjadinya kontestasi terbuka berbagai paham dan ajaran. Sekitar tahun 1980-an, untuk mendapatkan pengetahuan agama dan mengkonfirmasi interpretasi ajaran—dalam berbagai aspek—masyarakat merujuk kepada ulama dan ormas tertentu yang teruji kompetensinya. Otoritas agama yang disematkan pada ulama sebagai rujukan ini teruji bukan oleh hal-hal di luar kapasitas dirinya. Tapi belakangan, rujukan itu bergeser. Media, khususnya media sosial, menjadi tempat efektif untuk belajar agama.

Riset Alexander R. Arifianto (2020) menunjukkan bahwa menguatnya paham keagamaan eksklusif dan cenderung intoleran diakibatkan minimal oleh dua hal. Pertama, menguatnya interaksi dan saling pengaruh gagasan, ide, pandangan dan ajaran secara terbuka.

Mengutip John Stuart Mill, ia menyebutkan bahwa pasar gagasan ini (marketplace of ideas) diekspresikan secara terbuka melalui diskusi atau pengajian. Sejauh logika pasar, kontestasi gagasan pun berjalan terbuka, fair, bebas dan sepenuhnya ditentukan oleh dominasi pendukung dan pengikut. Gagasan yang dianggap lemah dan oleh pasar dinilai tak menjual akan tersingkir. Kedua, munculnya figur publik, khususnya di media, yang dinilai memiliki daya tarik tersendiri dan mendapatkan tempat di kalangan masyarakat. Tokoh-tokoh populer inilah yang oleh Muhammad Qosim Zaman (2002) disebut sebagai ‘cendekiawan agama baru’. Mereka lahir secara instan melalui ruang publik digital. Ironisnya, tak sedikit yang muncul berbarengan dengan kelompok-kelompok Islam pembawa semangat eksklusif.

Bagi mereka yang baru belajar agama kehadiran tokoh-tokoh populer tersebut cenderung sangat memikat setidaknya karena dua hal. Pertama, paham yang diajarkan dinilai, atau dianggap baru dan seolah memenuhi dahaga spiritual di tengah kompleksitas masalah hidup yang memang cenderung mencerabut manusia dari jati diri.

Fenomena hijrah—yang kemudian diamplifikasi oleh keterlibatan kalangan selebritas—misalnya, menggambarkan situasi ini. Kedua, penggunaan media sosial yang efektif membuat tokoh-tokoh atau ‘cendekiawan agama baru’ ini mudah diakses publik. Hubungan tokoh dan audiens menjadi terasa intens. Jarak dipangkas habis. Biaya pun dianggap murah. Lalu kemasan, gimmick marketing, dan berbagai aspek yang memungkinkan setiap pesan bisa dengan mudah diterima serta menjangkau khalayak di berbagai level usia maupun strata sosial, memainkan perannya.

Otoritas agama yang lahir dari riuhnya media sosial ini, mungkin tampak tidak secara vulgar melakukan perlawanan terhadap paham keagamaan yang ramah sebagaimana menjadi karakter utama kalangan di ormas keagamaan. Namun seringkali juga tampak jelas basis ideologi dan pemikirannya mengandung spirit salafi.

Ekspresi anti tradisi dari para tokoh agama populer ini berkali-kali menyeruak dan menjadi kontroversi. Tak jarang pula gejala itu muncul dalam bentuk pernyataan ‘serampangan’ seperti dalam kasus pengharaman dua merk minuman mineral karena merupakan produk ‘orang kafir’. Atau penyampaian materi ceramah keagamaan yang menoleransi tindakan kekerasan dan intoleran.

Di level yang lebih mengerikan adalah ketika gejala-gejala paham keagamaan eksklusif ini dimainkan di arena politik. Jelas, kita sudah cukup melihat pemandangan ini terjadi dalam bebeberapa tahun terakhir.

Memang, tak sedikit juga tokoh atau kalangan moderat dan inklusif juga memaksimalkan penggunaan media sosial. Tapi perimbangannya belum cukup. Berbagai penelitian menunjukkan betapa massifnya penggunaan media sosial sebagai alat penyebaran isu-isu keagamaan yang mendorong lahirnya sentimen anti keberagaman dan toleransi. Bahkan menjadi alat rekerutmen dalam Gerakan radikalisme-terorisme.

Dunia maya menjadi ruang inkubasi ajaran-ajaran intoleran yang kemudian tumbuh subur melalui suara otoritas agama minus kapasitas, tapi memiliki banyak penggemar dan pengikut.

Bahkan aktivis keagamaan yang sudah dikenal aktif menyebarkan Islam garis keras, juga terang-terangan menjadi bagian dari kontestasi ini. Hingga terjadilah antara lain apa yang disebut Nestor Garcia Canclini (1990) sebagai hibridisasi budaya (cultural hybridization), yaitu upaya individu atau kelompok untuk mengadopsi ajaran atau paham baru untuk bisa melindunginya dari tekanan budaya atau paham yang dianggap bertentangan. Jika kekuatan dunia digital dan ramuan ‘pesan agama’ yang dimainkan “cendekiawan agama baru” tidak diimbangi gerakan keagamaan bernalar, risikonya cukup serius.

Hemat penulis, kelompok keagamaan yang tersebar di masyarakat seperti ormas keagamaan semacam NU, Muhammadiyah, al-Irsyad, NW dan selainnya belum cukup agresif melakukan perimbangan, bahkan jika perlu menguasai medan pertarungan ideologi melalui improvisasi dan inovasi teknologi dunia digital.

Ketika metode dan pendekatan kegiatan keagamaan kalangan intoleran, bahkan radikalis begitu kuat memanfaatkan teknologi informasi mutakhir, ormas keagamaan secara umum masih menggunakan pendekatan-pendekatan konvensional.

Tak diragukan banyaknya aktor yang mengutuk dan meluruskan paham-paham Islam destruktif di ‘daratan’, sementara perang sesungguhnya terjadi di dunia maya.

Reposisi Pendekatan Dakwah

Bagaimana peran dan posisi ormas Islam dalam merespons perubahan ruang publik yang semakin pesat ini? Paling tidak ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, lembaga ormas Islam perlu bersinergi untuk merumuskan pendekatan dan strategi dakwah di ruang publik secara massif dan relevan.

Penting bagi kedua ormas ini bekerjasama dan berdampingan untuk menghadapi ‘musuh bersama’ dalam bentuk paham keagamaan yang dangkal, bahkan membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, Lembaga ormas Islam perlu membuat jaringan dan ruang-ruang publik di dunia digital yang adaptif dengan generasi milenial. Ada ruang untuk cara-cara konvensional, tapi penguatan peran di media digital merupakan keniscayaan.

Memfokuskan pada isu dakwah konvensional dan kegiatan ritula oleh ormas Islam ini perlu juga dibarengi dengan penguatan rekayasa teknologi dalam dunia informasi.
Reposisi dakwah harus dilakukan dalam keseluruhan aspek, baik itu alat, skill, juga tentu budaya kerja-kerja dakwah. Masukan ini mungkin sederhana dan bisa dianggap klise.

Tapi jika diturunkan dalam rincian strategi dan direalisasikan secara serius, upaya-upaya untuk menjaga Indonesia sebagai rumah bagi Islam toleran dan moderat akan sangat terbantu.

Penulis: Prof. Asep Saepudin Jahar, MA., Ph.D (Direktur Sekolah Pascsarjana UIN Jakarta)

Sholawat Thoriqiyah Beserta Artinya
Inilah Silsilah dan Baiat Thariqah Habib Luthfi Bin Yahya
Inilah Nasab Habib Luthfi Bin Yahya Hingga Rasulullah Saw
Silaturahmi KH Thoifur Mawardi ke kediaman Maulana Habib Luthfi
Mengenal Tarekat Syadziliyah dan Ajarannya (1)
Maqam Kewalian Habib Thaha Ciledug, Cirebon
Profil Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah Cilongok Tangerang
Karakteristik Akhlak dalam Islam
Gedung PBNU II, Jl. Taman Amir Hamzah No.5, RT.8/RW.4, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10320
Copyright © 2021 JATMAN Online

source

Leave a Reply

About Me

Kami adalah perusahaan pemasaran sosial. Kami memiliki lebih dari 10 tahun pengalaman dengan pemasaran digital, seo dan media digital.

Recent Posts

Need to raise your site's score?

We have an ideal solution for your business marketing
Nullam eget felis

Do you want a more direct contact with our team?

Sed blandit libero volutpat sed cras ornare arcu dui. At erat pellentesque adipiscing commodo elit at.

Give your website a boost today!

You can configure the appearance and location of this popup in the Elementor settings.
Enter your email address to receive a free analysis about the health of your website marketing.